Showing posts with label Stop Bullying Now. Show all posts
Showing posts with label Stop Bullying Now. Show all posts

PeKA: Program 2

School Workshop

Workshop penanganan bullying berdurasi kurang lebih 1 hari. Difasilitasi adalah sukarelawan PeKA yang memiliki latar belakang psikolog.Kegiatan ini bersifat sosial, tidak ada biaya untuk pelaksanaan workshop ini. Sekolah anda cukup menyediakan tempat, sarana, dan memperbanyak materi.
Namun, tentu saja, kegiatan seperti PeKA membutuhkan dana, baik untuk sosialisasi, pengadaan buku refrensi, dsb. Karena itu kami tidak akan menolak bila memang ada alokasi dana untuk workshop di sekolah anda. Pertanggung-jawaban dana tsb akan kami sampaikan di website ini.
Tetapi, sekali lagi, insya Allah kegiatan ini bukanlah untuk tujuan komersil. Karena itu bila sekolah anda tidak memiliki dana, jangan sungkan untuk tetap mengundang kami.

at 3:13 PM 0 comments  

PeKA: Program 1

Sosialisasi (Gerakan Anti Bullying)

Mungkin saja penyebab utama terjadinya Bullying karena masyarakat tidak mempunyai gambaran jelas tentang apa itu bullying dan dampaknya. Salah satu cara untuk mengatasi kondisi tersebut adalah memberikan penerangan yang lebih luas kepada publik mengenai bentuk bullying, penanganan dan cara pencegahannya.
Bentuk sosialisasi yang akan dilakukan :
· Pembuatan Website yang berisi informasi mengenai Bullying dalam bahasa indonesia. Website ini juga akan menampilkan informasi mengenai gerakan PeKA, dan ajakan kepada publik untuk dapat berpartisipasi dalam gerakan ini. Alamat websitenya adalah : www.pekabullying.org
· Seminar. Ada 2 jenis seminar yang akan diadakan. Untuk tahap awal, seminar akan dilangsungkan secara lokal di sekolah dasar maupun menengah. Di dalam seminar yang ditujukan untuk guru dan orangtua ini akan ditampilkan hasil penelitian bullying yang terjadi di Indonesia dan bagaimana cara untuk pencegahannya. Apabila sudah berjalan secara baik, maka akan dibuat seminar untuk umum dengan maksud untuk lebih mengangkat gaung dari gerakan anti bullying.
· Mailing List atau Group Discussion mengenai Bullying di Internet
· Booklet/Leaflet yang dibuat sebanyak 4 tipe, untuk orangtua, guru, siswa sekolah dasar dan siswa sekolah menengah.
· Multimedia

at 3:12 PM 0 comments  

PeKA: Sasaran

Bisa jadi ada jutaan kasus seperti Raju di seluruh Indonesia, dengan skala yang ringan sampai dengan yang lebih parah. Sayangnya kasus-kasus semacam itu sering kali dianggap wajar dan biasa oleh masyarakat. Misalnya ada pemahaman bahwa bullying akan menumbuhkan karakter anak yang kuat dan tahan banting [Lihat Appendix E. Mitos seputar bullying]. Padahal seperti sudah dijelaskan pada uraian di atas, bullying justru akan merusak kepercayaan diri dan keyakinan sang anak terhadap nilai moral. Yang kita butuhkan adalah bukan seorang anak yang belajar bahwa si kuat boleh menindas yang lemah, tapi seorang anak yang bahagia dan percaya diri. Yang ketika meninggalkan bangku sekolah, sudah memiliki bekal keyakinan diri yang tinggi, sehingga mereka dapat mengatasi masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
Saat ini etika premanisme begitu merebak di negara kita di semua lapisan, mulai dari rakyat sipil sampai dengan aparat pemerintah. Perkelahian pelajar dan mahasiswa, pemerasan oleh aparat hukum dan parlemen, tumbuhnya organisasi massa yang terkait erat dengan kekerasan, sudah menjadi pemandangan yang sangat biasa. Mungkin salah satu penyebabnya adalah lemahnya pembangunan karakter manusia yang beretika di negara ini terutama di lingkungan sekolah.
Gerakan Peduli Karakter Anak (PeKA) ini dibentuk dari keprihatinan melihat semakin menjamurnya sekolah yang mengutamakan kurikulum akademis namun belum memberikan porsi yang besar dalam pengembangan karakter siswa. Mengingat begitu besar dan luasnyanya bidang pengembangan karakter, maka PeKA akan memfokuskan dalam pencegahan dan penanganan bullying.
Sasaran dari PeKA adalah :
· Pemerintah, pihak sekolah, siswa dan orangtua memiliki pemahaman utuh mengenai bullying
· Pemerintah dan pihak sekolah memiliki kebijakan dan prosedur standar mengenai bullying, dan menerapkannya ketika ada kejadian bullying.
· Siswa dan orangtua mengetahui kebijakan sekolah mengenai bullying dan memahami prosedur penanganannya.
· Tidak hanya menolong korban tapi juga mencegah terjadinya korban dan juga menolong pelaku

at 3:11 PM 0 comments  

PeKA: Apa itu bullying

Definisi Bullying
Mungkin agak sulit untuk mencari padanan kata yang tepat dalam bahasa indonesia untuk bullying. Secara definisi bullying adalah penggunaan agresi dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental. Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal, emosional dan juga seksual.

Berikut ini adalah contoh tindakan yang termasuk kategory bullying; pelaku baik individual maupun group secara sengaja menyakiti atau mengancam korban dengan cara:
- menyisihkan seseorang dari pergaulan,
- menyebarkan gosip, mebuat julukan yang bersifat ejekan,
- mengerjai seseorang untuk mempermalukannya
- mengintimidasi atau mengancam korban
- melukai secara fisik
- melakukan pemalakan/pengompasan

Bullying tidaklah sama dengan occasional conflict atau pertengkaran biasa yang umum terjadi pada anak. Konflik pada anak adalah normal dan membuat anak belajar cara bernegosiasi dan bersepakat satu sama lain. Bullying merujuk pada tindakan yang bertujuan menyakiti dan dilakukan secara berulang. Sang korban biasanya anak yang lebih lemah dibandingkan sang pelaku.

Pentingnya menangani Bullying
Bullying itu sangat menyakitkan bagi si korban. Tidak seorangpun pantas menjadi korban bullying. Setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan dan dihargai secara pantas dan wajar.

Bullying memiliki dampak yang negatif bagi perkembangan karakter anak, baik bagi si korban maupun pelaku.

Berikut ini contoh dampak bullying bagi sang korban :
- Depresi
- Rendahnya kepercayaan diri / minder
- Pemalu dan penyendiri
- Merosotnya prestasi akademik
- Merasa terisolasi dalam pergaulan
- Terpikir atau bahkan mencoba untuk bunuh diri

Di sisi lain, apabila dibiarkan, pelaku bullying akan belajar bahwa tidak ada risiko apapun bagi mereka bila mereka melakukan kekerasan, agresi maupun mengancam anak lain. Ketika dewasa pelaku tsb memiliki potensi lebih besar untuk menjadi preman ataupun pelaku kriminal dan akan membawa masalah dalam pergaulan sosial.

Ciri-ciri korban Bullying
Indikasi anak menjadi korban bullying :
- Tidak mau pergi ke sekolah
- Takut pada saat pergi maupun pulang sekolah
- Menjadi nervous ataupun kurang percaya diri
- Menangis sendiri tanpa sebab ataupun pada saat tidur
- Prestasi akademik semakin menurun
- Kehilangan keceriaan pada waktu pagi hari sebelum ke sekolah
- Pulang sekolah dengan tas maupun buku yg robek/rusak
- Barang kepunyaan/uang sering dilaporkan hilang
- Meminta uang atau bahkan mencuri uang (utk diserahkan kepada si Pelaku)
- Bersikap agresif pada adik atau saudaranya
- Mogok makan
- Pulang dengan luka-luka tanpa penjelasan yang memadai.

Indikasi di atas bisa jadi juga merupakan ciri dari masalah lainnya, namun Bullying harus selalu dipertimbangkan sebagai kemungkinan yang harus diwaspadai.

at 3:07 PM 0 comments  

Peka Bullying

Gerakan ini dimulai Agustus 2006.
Alhamdulillah sempat berjalan di beberapa sekolah, berkat kerja keras dari teman-teman Orangtua murid di SD Annisa Bintaro, terutama Tanti, Niken and the gang:-). Detailnya bisa dilihat di website Pekabullying

Sayangnya sudah hampir 1 tahun ini berhenti karena beberapa kendala teknis. Insya Allah, model gerakannya akan dirubah menjadi dalam bentuk diskusi di ruang maya. Kalau dgn bentuk visit ke sekolah agak berat mengumpulkan sukarelawannya.

at 2:56 PM 0 comments  

PeKA: background

Peduli Karakter Anak (PeKA), Gerakan moral anti ’bullying’

Background
Siapa tidak kenal Raju, bocah dari Langkat yang menjadi berita karena dihukum di pengadilan untuk kasus intimidasi yang dilakukannya terhadap bocah lainnya. Kasus Raju menyebabkan banyak pihak mendesak untuk dilakukannya revisi terhadap UU dan tata cara pengadilan anak.

Sudah berulang-kali kita dikejutkan oleh berita tentang anak SD ataupun SMP yang bunuh diri karena menunggak SPP. Reaksi yang umumnya ada adalah masyarakat menganggap fenomena ini merupakan implikasi dari terjadinya krisis ekonomi. Dan pemerintah pun didesak untuk meningkatkan anggaran pendidikan sehingga biaya sekolah menjadi lebih terjangkau.

Kita juga sudah sering mendengar adanya korban yang berjatuhan akibat proses perploncoan yang terjadi pada penerimaan siswa baru. Yang paling terkenal mungkin adalah kasus yang terjadi di STPDN. Akibat peristiwa tsb biasanya sekolah bersangkutan memecat siswa senior yang terlibat, atau berjanji untuk mengawasi lebih ketat proses penerimaan siswa baru atau bahkan meniadakannya.

Adakah sesuatu yang kurang dari reaksi masyarakat dan pihak terkait terhadap ketiga peristiwa tsb ? Sepintas lalu kelihatannya tidak. Bukankah dengan adanya kasus Raju, semua pihak menjadi akan lebih berhati-hati dalam hal peradilan anak? Bukankah dgn adanya fenomena tunggakan SPP di kalangan siswa tak mampu, masyarakat menjadi tergerak untuk meningkatkan kepekaan sosialnya ?

Akan tetapi kalau kita coba renungkan secara lebih mendalam, ada sebuah benang merah dari ketiga kasus di atas yang luput dari perhatian. Raju mungkin saja tidak perlu menjadi pesakitan di pengadilan apabila gangguan yang dilakukannya berulangkali sebelumnya terhadap adik dari korban, tidak dianggap sebagai kenakalan anak2 biasa oleh pihak sekolah. Mungkin saja tidak terjadi bunuh diri apabila siswa yg menunggak SPP tidak merasa dipermalukan dan disisihkan di hadapan teman sekolahnya. Baik itu karena berulangkali harus menghadapi pemanggilan kepala sekolah maupun perlakuan yang berbeda dari pihak sekolah terhadapnya. Bisa jadi tidak akan terjadi lagi ’mati konyol’ akibat proses penerimaan siswa baru, apabila kita tidak menganggap praktek perploncoan sebagai hal yang biasa.

Teror berupa kekerasan fisik atau mental, pengucilan, penyisihan, intimidasi, perploncoan yang terjadi pada ketiga kasus diatas sebetulnya adalah contoh klasik dari apa yang biasanya disebut dengan ’Bullying’, yang kerapkali terjadi di lingkungan sekolah, baik itu dari sesama teman, senior bahkan juga guru.

at 3:05 PM 0 comments